Monumen-monumen kolonial – Johny A. Khusyairi

Monumen-monumen Coen, Daendels dan Van Heutsz

Cuaca makna: Ibarat cermin, monumen memantulkan beragam penafsiran atas keberadaannya sepanjang masa. Monumen tidak hanya menjadi penjaga memori, namun menjadi ajang perebutan makna atas pendiriannya

Penulis: Johny A. Khusyairi, Diterbitkan oleh: Airlangga University Surabaya & Elmatera Publishing Yogyakarta (2013)

PENDAHULUAN 

Ibarat cermin, monumen memantulkan beragam penafsiran atas keberadaannya sepanjang masa. Monumen tidak hanya menjadi penjaga memori, namun menjadi ajang perebutan makna atas pendiriannya. Monumen kerapkali menjadi titik temu antara pandangan resmi dan pandangan alternatif atas masa lalu. Dalam beberapa kasus, berbeda dengan nama dan makna yang telah diberikan pada suatu monumen, orang memiliki interpretasi mereka sendiri atas monumen tersebut yang bisa berasal dari penampilan, lokasi atau pelbagai faktor yang berakibat tidak dikenalnya makna awal atau tujuan dari pendirian monumen. Sebagai misal, abad ke-19 di Hindia Belanda menjadi saksi atas tidak dikenalinya dua identitas dengan benar. Patung J.P. Coen di Batavia kerap dikenali sebagai raja Swedia, Gustavus Adolphus. Demikian pula dengan monumen Jenderal A.V. Michiels yang didirikan di Padang pada tahun 1855 dianggap sebagai monumen untuk mengenal Laksamana Michiel de Ruyter. Jenderal A.V. Michiel adalah orang yang bertanggung jawab atas aneksasi Belanda di Sumatera Barat, sedangkan Laksamana Michiel de Ruyter adalah salah seorang laksamana Belanda yang berperan dalam perang Inggris-Belanda pada abad ke-17. Namun demikian, kedua monumen tersebut tetap saja menunjukkan kekuatan simbolis atas kolonialisme Belanda di Hindia.

Monumen-monumen, terutama dari para tokoh politik, memiliki informasi historis dan politis. Monumen-monumen dari para Gubernur Jenderal di Hindia Belanda memiliki makna politis dan historis dalam kaitannya dengan sejarah kolonial Belanda. Mendirikan monumen, patung, patung setengah badan (bust) dan sebagainya sama dengan memamerkan kekuasaan Belanda terhadap Hindia Belanda. Pada bagian depan gedung Nederlandsche Handelsmaatschappij, NHM (sekarang digunakan sebagai gedung Arsip Kota Amsterdam), yang terletak di jalan Vijzelstraat 32-34 Amsterdam, beberapa meter di atas gerbang utama, berdiri patung-patung Coen, Daendels dan van Heutsz. Di bawah setiap patung tersebut terdapat plakat bertuliskan nama-nama mereka. Gedung ini dulu adalah kantor pusat NHM. Ketiga orang tersebut telah memberikan kontribusi dalam pendirian dan perluasan kekuasan kolonial Belanda di Hindia. Coen telah berjasa dalam masa VOC, Daendels dalam masa transisi antara periode VOC dan periode kolonial, dan Van Heutsz dalam periode kolonial.

Beberapa artikel menunjukkan kontribusi mendasar Coen pada kemakmuran Belanda. Idenya untuk mendirikan permukiman di pulau Jawa sebagai pusat pengaturan perusahaan dagang dianggap sebagai langkah bijaksana yang kemudian memberikan dampak positif pada VOC. Dia juga orang yang menggagas pembuatan benteng di Jacatra, yang kemudian disebut Batavia. Dia pula yang telah berhasil mengusir kehadiran Inggris di kepulauan Maluku atau kepulauan rempah-rempah yang berakibat kukuhnya monopoli perusahaan VOC dalam perdagangan rempah-rempah di Hindia Timur.

Daendels adalah figur yang terkenal sebagai pendiri jalan Raya Pos (de Grote Postweg) sepanjang sekitar seribu kilometer di Jawa bagian Utara. Sekalipun beberapa penulis beranggapan bahwa dia tidak betul-betul menggagas pendirian jalan tersebut, namun hanya melebarkan jalan yang telah ada, namun gagasannya untuk melakukan renovasi terhadap jalan yang telah ada tersebut adalah luar biasa. Gagasan dia untuk membangun jalan tersebut sungguh luar biasa, karena jalan ini memudahkan eksploitasi ekonomi di Jawa oleh pemerintahan berikutnya. Daendels juga punya peran penting dalam penerapan dasar-dasar administrasi modern dan kerangka Hukum modern di Hindia Belanda.

Van Heutsz, seorang figur dalam sejarah kolonial di abad ke-20, terkenal pada atas perannya dalam aneksasi Aceh, yang juga merupakan langkah menuju penuntasan penaklukan wilayah geografis dari yang sekarang bernama Indonesia. Dia juga antusias dalam menerapkan Politik Etis bersama dengan koleganya yang pada waktu itu menjadi Menteri Urusan Koloni, Idenburg. Namun demikian, nama Van Heutsz tidak begitu dikenal bagi kebanyakan orang Indonesia yang belajar sejarah indonesia hanya pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Sementara, Snouck Hurgronje lebih dikenal ketimbang Van Heutsz.

Representasi ketiga gubernur jenderal dalam bentuk patung, patung setengah badan dan relief dulu cukup umum di Belanda dan Hindia Belanda. Di Hindia Belanda, patung Coen berdiri di Waterlooplein, di Batavia. Di Belanda, patungnya berdiri di kota kelahirannya, Hoorn. Selain itu, juga terdapat patung Coen di gedung NHM di Amsterdam. Representasi Coen yang lain ialah sebuah patung kepalanya (portrait) di pintu masuk Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT)

Berbicara tentang Daendels, seakan terdapat ketidak-adilan yang dilakukan atas kemasyhurannya karena hanya terdapat sebuah representasi dia dalam bentuk patung di Belanda. Patung ini dapat dilihat di bagian depan gedung NHM. Di tanah kelahirannya, dia juga dihargai dengan sebuah plakat bertuliskan “de Tinne” pada rumahnya dulu. Di Indonesia, patungnya bersama seorang pangeran Sunda masih berdiri hingga sekarang. Patung ini menunukkan Daendels sedang berjabat tangan. Daendels mengulurkan tangan kanannya, sedangkan pangeran tersebut mengulurkan tangan kirinya. Tangan kanan pangeran tersebut menggenggam hulu belati tradisional, keris, sedangkan tangan kiri Daendels menggenggam hulu pedangnya.

Berbeda dengan Daendels, representasi Van Heutsz dalam bentuk monumen, patung setengah badan atau relief sangatlah menonjol. Monumen Van Heutsz dibangun baik di Hindia Belanda (Batavia) maupun di Belanda (Amsterdam). Terdapat patung setengah badannya di Aceh, di kota kelahirannya di Coevorden dan di museum KNIL di Bronbeek.

Kehadiran, penghilangan serta perubahan nama atau fungsi monumen menarik untuk dikaji. Sebagai misal, perubahan monumen Van Heutsz di Amsterdam. Pasti telah terdapat perdebatan yang panjang di balik perubahan nama monumen ini. Pertanyaan utama dari penelitian ini ialah untuk mengkaji bagaimana Belanda dan Indonesia memperlakukan masa lalu mereka seperti tercermin pada ketiga monumen tersebut. Seberapa penting monumen-monumen tersebut baik bagi Belanda dan Indonesia berkaitan dengan masa kolonial? Bagaimanakah relevansi dan signifikansi makna dari suatu perubahan monumen?

KESIMPULAN

Bukanlah ide yang baik untuk mengingat kolonialisme apa adanya. Baik Belanda maupun Indonesia dan Indonesia memiliki memori sendiri terhadap kolonialisme. Belanda sangat menyesalkan dan malu atas apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang mereka di Hindia Timur, sementara Indonesia senantiasa mengingat perjuangan dan penderitaan nenek moyang mereka di bawah kolonialisme Belanda. Perlakuan mereka terhadap monumen-monumen Gubernur Jenderal merefleksikan bagaimana kedua bangsa tersebu memahami kolonialitas.

Nasionalisme Indonesia lahir sebagai respons atas kolonialisme Belanda. Bagi Indonesia, kehadiran monumen yang menjadi simbol kolonialisme bermula muncul ketika pemerintah kolonial Belanda meresmikan monumen Van Heutsz di Gondangdia, Batavia. Mahasiswa memprotes secara langsung rencana peresmian monumen ini pada tahun 1935. Protes-protes tersebut dilancarkan dalam konteks perjuangan tahun 1930an untuk mendapatkan kedaulatan sendiri di Hindia Belanda. Perjuangan untuk mendapatkan hak pemerintahan sendiri di tahun 1930an sangat terbatas oleh karena tindakan represif dari pemerintaha terhadap para aktivis nasionalis. Mereka dapat diasingkan atau dikurung di penjara tanpa pengadilan.

Semangat nasionalisme menjadi lebih besar selama periode pendudukan Jepang. Tidak seperti periode kolonial Belanda, selama pendudukan Jepang para pemimpin nasionalis melibatkan diri pada banyak lembaga bentukan Jepang. Bagi nasionalis yang bertindak kooperatif dengan Jepang, menggunakan keterlibatan mereka pada lembaga-lembaga Jepang untuk membangkitkan nasionalisme secara lebih lebih luas. Mereka memotivasi bangsa Indonesia untuk membantu Jepang dalam perang Pasifik, namun lebih penting lagi para pemimpin nasionalis menegaskan bahwa dengan membantu Jepang berarti mereka membangun bangsa mereka sendiri. Mereka membantu Jepang oleh karena mereka sangat ingin untuk membela Indonesia.

Salah satu cara untuk membangun nasionalisme ialah dengan menyingkirkan seluruh simbol kolonial. Banyak monumen dan patung yang berkaitan dengan kolonialisme Belanda disingkirkan terutama dalam rangka peringatan setahun kedatangan Jepang di Indonesia. Patung Coen di Lapangan Banteng juga menjadi sasaran penyingkiran ini. Patung-patung seperti Coen dianggap menjadi simbol kemakmuran Belanda, sementara bagi Indonesia menjadi simbol perbudakan. Kehadiran patung-patung kolonial menurut pemerintah pendudukan Jepang hanya akan menurunkan semangat untuk membangkitkan rakyat dari penderitaan selama periode kolonial. Oleh karena itu, patung-patung yang berhubungan dengan kolonialisme harus dihapuskan.

Selama masa kemerdekaan, warisan kolonialisme masih berguna untuk diperingati. Ekspedisi bersepeda Kompas yang menyusuri jalan raya pos, dari Anyer hingga Panarukan, adalah contoh yang jelas. Perayaan dan peringatan ini dilakukan untuk masyarakat yang bekerja dalam membangun jalan raya tersebut, bukan untuk mengingat Daendels sebagai orang yang memberikan perintah pada pembangunan jalan tersebut.

Bagi bangsa Belanda, kolonialisme mereka di masa lalu merupakan lembaran gelap dari sejarah nasional mereka. Sebagian besar monumen yang berhubungan dengan kolonialisme menjadi sasaran kritik. Kelompok komunis dan sosial demokrat bahkan mengkritik keberadaan monumen-monumen tersebut pada waktu kolonialisme masih sedang berlangung. Amarah dan rasa malu terhadap masa lalu kolonial mereka dilakukan dengan cara merusan monumen Van Heutsz di Amsterdam. Serangan protes juga diarahkan pada patung Coen di Hoorn. Sekalipun secara akademis Coen bukanlah tokoh yang muncul dalam masa kolonial, ia dianggap sebagai tokoh buruk dari masa lalu. Bangsa Belanda ingin mengetahui apa saja yang pernah dilakukan oleh Coen di Hindia, tidak hanya apa yang telah diberikannya kepada Belanda. Sementara itu, Daendels yang mendapatkan apresiasi yang rendah di Belanda sebagai akibat aliansi yang dilakukannya dengan pihak Perancis, masih berwujud monumen yang utuh.

Warisan kolonialitas diperlakukan secara berbeda oleh Indonesia dan Belanda. Sementara patung setengah badan dan monumen Van Heutsz menjadi sasaran protes-protes di Belanda, sebuah medali atau plakat ‘diimpor’ ke Aceh pada tahun 1993. Van Heutsz adalah tokoh militer yang telah menaklukan orang Aceh selama perang Aceh berlangsung, ada kemungkinan bahwa perannya memberikan inspirasi kepada pejabat militer Indonesia yang bertugas di Aceh pada waktu itu. Sebuah patung Daendels dengan seorang Sunda, berdiri dengan aman di Sumedang. Batu nisan Coen masih berada di halaman Museum Wayang Jakarta. Sebuah wayang golek Coen juga menjadi koleksi dari museum tersebut. Di Belanda, monumen Van Heutsz dinetralisir dengan merubah namanya. Pada tahun 2004, monumen tersebut diganti namanya menjadi Monument Indië-Nederland, 1596-1949.

Disamping protes-protes, cara lain untuk membersihkan sejarah nasional dari masa lalu yang gelap ialah dengan menciptakan kebanggaan baru. Hoorn adalah kota yang paling beruntung diantara kota-kota kelahiran ketiga Gubernur Jenderal tersebut. Sebuah novel yang mengambil kisah tiga anak muda dari Hoorn memungkinkan kota ini untuk menciptakan kebanggan baru, setidaknya secara lokal. Mereka telah memilih tiga awak kapal muda dari kapten Bontekoe, bukan Willem I. Bontekoe sendiri, sebagai kebanggaan baru untuk ‘menyingkirkan’ memori atas Coen. Ini adalah suatu damnatio memoriae yang elegan, karena mereka tidak merusak atau menghapus patung Coen untk mendapatkan memori yang baru. Anak-anak muda adalah tokoh-tokoh fiksi yang kontroversial seperti Coen. Mereka juga adalah teladan yang baik untuk anak-anak agar dapat berbuat baik kepada orang tua mereka. Pemunculan patung-patung ketiga anak muda tersebut, pada situs internet kantor arsip lokal, pada halaman pertama monitor informasi pariwisata ANWB di Hoorn dan juga pengetahuan masyarakat Hoorn atas mereka membuktikan adanya citra hyper dari kota Hoorn. Setidaknya, masyarakat Hoorn sekarang berada dalam proses penciptaan hyper-Hoorn yang baru, yakni dengan memunculkan de Scheepsjongens van Bontekoe.

Alhasil dapat diringkas bahwa  terdapat perbedaan apresiasi terhadap kehadiran monumen-monumen para Gubernur Jenderal. Bagi Belanda, terdapat pendapat yang pro dan kontra terhadap kehadiran monumen-monumen tersebut, terutama monumen Van Heutsz dan Coen. Solusinya ialah dengan melepas makna pada monumen-monumen tersebut atau menciptakan tokoh-tokoh lain untuk dimonumenkan. Di Indonesia, ‘serangan’ penodaan pada monumen-monumen tersebut terjadi selama periode pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan. Dalam Indonesia kontemporer, monumen-monumen tersebut mendapat apresiasi yang berbeda. Monumen Coen masih ‘hidup’ di Museum Wayang in Jakarta. Dia menjadi salah satu pusat perhatian di museum tersebut. Karya monumental Daendels di Jawa dinegasikan dalam peringatan dan perayaan kemerdekaan Indonesia. Alih-alih mengapresiasi karya Daendels, ekspedisi tersbut dilakukan untuk memperingati dan memberikan penghargaan kepada orang-orang yang bekerja pada Daendels. Van Heutsz kemungkinan adalah tokoh yang inspiratif, terutama untuk pejabat militer Indoneisa yang dikirim ke Aceh, ini tampak pada permintaan gubernur Aceh pada waktu itu untuk memiliki copy dari patung setengah badan Van Heutsz di Bronbeek dalam bentuk plakat untuk disimpan di Aceh.


[Penulis menyelesaikan master di bidang Sejarah di Universitas Leiden pada tahun 2009, dan sekarang menjadi peneliti di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mendalami mobilitas sosial orang Jawa Kristen di kota Yogyakarta, 1905-1950an.]

Download PDF: