Kejahatan perang Indonesia – Volkskrant

Penelitian Kejahatan Perang Belanda dan Indonesia

Volkskrant / artikel opini oleh: Bart Schut, 4 Oktober 2016

Penelitian bersama akan kasus kejahatan perang oleh kedua negara dalam konflik rentang waktu 1945 hingga 1949 akan menjadi pertanda baik antara kedua negara.

“Kami berdiri pada sisi sejarah yang salah” tutur Jeanine Hennis, Menteri Pertahanan Belanda. Dia merujuk pada perang dekolonialisasi yang kita semua menyebutnya “Aksi Polisionil”. Jika Hennis ingin mengatakan bahwa kolonialisme adalah hal yang salah dari kacamata sejarah, tentu dia tidak salah. Fakta bahwa semua kekuatan militer yang kuat menindas yang lebih lemah tidak bisa membuat kenyataan ini terdengar lebih lunak.

Tapi kapan Belanda berdiri pada sisi yang salah dalam sejarah ,lantas siapa yang berdiri pada sisi yang benar? Pimpinan pergerakan kemerdekaan ditanah yang dulu disebut Hindia Belanda ? Semoga yang dimaksudkan Menteri Pertahanan tidak mengarah pada mereka. Sukarno dan Hatta adalah kolaborator bersama dengan Jepang, secara moral adalah hal yang hina, atau dengan kata lain –tindakan kriminal-. Bukan hanya sebuah tindakan pengkhianatan kepada Belanda. Hanya karena percaya slogan “asia bersaudara”, padahal Jepang memperlakukan rakyat lebih buruk daripada Jepang.

Tak lama setelah memproklamasikan kemerdekaannya, semakin memperjelas bahwa Soekarno adalah orang yang tampil sebagai malaikat dimata rakyat. Diktator pertama ini dapat dengan mudah ditempatkan pada sisi kanan dari sejarah. Penerusnya yang juga seorang pahlawan perang Suharto, seorang pembunuh massal yang selevel dengan tentara Belanda macam Jenderal Spoor dan Kapten Raymond Westerling si Turki, dipandang sebagai bocah yang tidak berdosa. Soekarno dan Soeharto memang pejuang kemerdekaan yang memiliki kedisiplinan.

Tapi diantara para pemuda pemberontak, kedisiplinan adalah hal yang sangat kurang, dimana mereka ini bertanggungjawab atas teror yang menyebar ketika kekosongan kekuasaan terjadi. Mereka memburu siapapun. Disaat yang sama ketika tentara Jepang menjaga kamp interniran, para pemuda Indonesia merampok, memperkosa dari kota ke kota bahkan desa-desa. Korbannya : Orang-orang Belanda yang telah meninggalkan kamp, orang orang Indo yang mereka anggap sebagai kolaborator, maluku, china dan tentu saja orang-orang Indonesia itu sendiri. Perkiraan jumlah korban dari era bersiap ini mungkin paling mencengangkan dalam sejarah abad 20, berkisar antara sekian ribu hinggu 10 ribu korban.

Kita bisa dan kita harusnya menahan pemerintah Belanda di den haag untuk menahan permata dari mahkota kolonial terlalu lama ( terutama sejak dua aksi polisionil pada 1947 dan seterusnya ). Bagaimanapun adalah omong kosong jika serangan oleh pasukan sekutu pada 1945 dilanjutkan dengan pasukan Belanda pada 1946 akan menempatkan Belanda dalam sisi sejarah yang salah. Karena suka tidak suka, sebagai pemegang kukasaan yang sah pada masa itu, Belanda memiliki hak penuh untuk memulihkan keamanan di wilayahnya, mereka memiliki kewajiban untuk memusnahkan teror dari para pemuda.

Adalah hal yang cukup jelas bahwa kejahatan dilakukan oleh kedua belah pihak. Namun dari penelitian pemerintah Belanda tahun 1969, kejahatan mereka jauh lebih besar dan lebih terstruktural. Perang dekolonialisasi selalu kotor. Para pemuda Belanda saat itu mengalami trauma dari penindasan Jerman dan Jepang dimana mereka diterjunkan dalam perang ini. Fakta ini bukanlah sebuah pembenaran dari tindakan mereka , aksi ini juga bukanlah langkah yang benar sesuai kode militer dalam menangani sebuah kejahatan apalagi memberi perintah langsung untuk melakukan aksi tidak terpuji. Tapi setelah 70 tahun berlalu, kita harus memikirkan ulang, mengapa hanya kejahatan yang dilakukan oleh orang kulit putih saja yang harus diusut? Hal ini nantinya akan memicu rasisme.

Indonesia sepertinya tidak terlalu antusias dalam melakukan kerjasama penelitian era aksi polisionil, tapi tentu itu bukan argumen yang bagus untuk menolak adanya riset bersama. Informasi yang kita terima mengenai masa lalu di Indonesia selalu hal-hal yang positif, seandainya ditemukan kesimpulan berupa fakta yang menyakitkan maka harus tetap diterima. Penelitian hendaknya dari pihak independen yang tidak akan dipengaruhi opini dari golongan politikus 2016. Opini yang berkaitan dengan agenda politik tidak akan pernah menuju pada kebenaran penelitian.

Bart Schut adalah seorang jurnalis. Keluarga dari ayahnya dahulu tinggal di Hindia Belanda.

volkskrant-bart-schut

[Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Ady Setyawan, Roode Brug Soerabaia. Bila Anda memiliki tanggapan dan saran demi perbaikan terjemahan ini, silakan kirimkan email kepada kami info@historibersama.com]