Balai Pemuda – Surya

Tangisan Sejarah Itu Berasal dari Kawasan Balai Pemuda

Surya, 10 April 2016, oleh: Johan Rintahani Pradana (Master Student University Negeri Malang)

Pia van Der Molen, perempuan berkebangsaan Belanda ini menerima data dari keluarga Jack Boer mengenai keberadaan keluarga Belanda di Indonesia medio 1945. Jack Boer diketahui sebagai orang yang membantu tentara sekutu membebaskan tahanan dari penjara Koblen Surabaya pada 1945.

Mendapat tanggung jawab, Pia memulai penelusuran mengenai keberadaan nama-nama dalam data tersebut, yang diduga menjadi korban dalam gejolak revolusi di awal kemerdekaan Indonesia di Surabaya.

Penelusuran yang dikemas Pia dalam film dokumenter berjudul Archief van Trannen itu menjadi bahan diskusi pada 9 April 2017 di Museum Sepuluh Nopember Surabaya. “Pemutaran film dan diskusi ini diharapkan menjadi jembatan untuk bertukar pikiran dan dengar gagasan terkait kontroversi yang selama ini melingkupi sejarah Indonesia-Belanda,” ujar Marjolein van Pagee, pendiri Histori Bersama.

Seratus lebih peserta diskusi menyambut antusias film dokumenter tersebut. Hal ini memberi gambaran berbeda dari biasanya dalam narasi sejarah di Indonesia. Para pejuang Surabaya 1945 digambarkan sebagai sosok yang ganas, keji, bahkan tak segan membunuh tawanan, terlebih warga negara Belanda.

Temuan ini memancing respons peserta untuk melontarkan pertanyaan dan memberikan gagasan. Mereka cukup kaget dengan gambaran tersebut, namun generasi yang lebih tua memberi tanggapan bijak dalam menyikapi sejarah.

Bagaimana pun sangat sulit mendapatkan kata sepakat dalam sejarah, apalagi yang masih dibalut kontroversi. Memahaminya sebagai sebuah pembelajaran bagi masa kini dan menghadapi masa depan adalah kunci utama, agar sejarah memiliki makna.


Balai Pemuda Surabaya (Google)

Tepat tengah hari, acara yang dimulai pukul 09.00 WIB itu ditutup dan bergeser ke Balai Pemuda Surabaya untuk napak tilas bersama Roodebrug Soerabaia. Di gedung inilah yang dalam film dokumenter tersebut diduga menjadi lokasi pembantaian warga Belanda maupun Eropa oleh para pemuda Surabaya pada Oktober 1945.

Peserta masih antusias mengikuti dan menelusuri tiap sudut bangunan serta menyimak penjelasan pemateri. Diskusi ini setidaknya memberi gambaran baru bagi generasi muda Indonesia, tentang bagaimana bangsa Belanda melihat sejarah di antara dua negara.

Perbedaan sudut pandang pasti ada. Agar tak larut dalam perdebatan tanpa ujung, alangkah bijak bila menyikapi sejarah sebagai pembelajaran hidup.

http://surabaya.tribunnews.com/2017/04/10/tangisan-sejarah-itu-berasal-dari-kawasan-balai-pemuda