Pembunuhan ayahku – NRC

Pembunuhan terhadap ayahku tidak dibicarakan di rumah

Sebuah wawancara NRC dengan Soeloeng Nasoetion, yang menjadi saksi penjemputan paksa ayahnya, penasihat Mohammad Hatta, oleh militer Belanda di Kaliurang Sleman Yogyakarta

NRC Handelsblad, 29 Januari 2017 / Oleh: Frank Vermeulen

Korban kekerasan militer Belanda di Indonesia tetap lama tidak diperhatikan. Ini masih selalu menjadi kasus terbuka. ”

(Sabtu 27 Januari 2017, koran NRC menulis hasil penyelidikan sendiri mengenai proses janda Adriana van der Have sesudah pembunuhan suaminya. Masdoelhak Nasoetion ini, penasihat pemerintah, ringkasnya dieksekusi oleh militer Belanda pada tahun 1948 di Indonesia. Pengadilan Den Haag, tahun 1953, memutuskan bahwa negara Belanda bertanggung jawab atas kerugian yang dideritanya. Lama orang berpikir bahwa baru di tahun 2009 untuk pertama kalinya kasus serupa itu dijalankan; vonis tahun 1953 telah dilupakan. Saat itu disebut janda-janda Rawagede, ahli waris pembunuhan massal yang dilakukan oleh Belanda di sebuah desa di Jawa, telah ditawari sebuah kesepakatan hukum, ‘schikking’ oleh negara Belanda.)

Soeloeng Hamonangan Nasoetion (1941) berumur tujuh tahun ketika dia menyaksikan penangkapan ayahnya oleh militer Belanda dengan cara kekerasan pada 29 Desember 1948 di Kaliurang dekat kota Yogyakarta, Jawa bagian tengah. Ayahnya, Masdoelhak adalah seorang penasihat penting Mohammad Hatta, wakil presiden Indonesia kala itu.

Masdoelhak ditembak mati oleh Belanda. Militer yang melakukannya tidak pernah dituntut. Ibu Soeloeng membawa masalah ini ke meja hijau dan dia pada tahun 1953 menjadi korban perang Indonesia pertama yang mendapatkan kesepakatan hukum dengan negara Belanda. Apakah dengan kesepakatan ini, keadilan sudah dijalankan dalam pandangan sang putra? Bagaimana seorang anak melihat dunia orang dewasa?


(Foto: Felix Schmitt)

Soeloeng Nasoetion:

Pembunuhan ayah saya bukan tema pembicaraan di rumah kami. Ibu saya tentu saja telah sibuk karena pembunuhan itu. Namun kami, empat anak, hanya mengalami apa yang terjadi di Kaliurang – saat itu kami tidak memahaminya. Karena kami masih terlalu kecil.

Itu terjadi begitu saja. Serdadu Belanda mengetuk pintu. Saya bersama dua adik laki-laki saya. Ibu saya berada di rumah sakit seusai melahirkan adik saya yang bungsu. Ayah saya membuka pintu. Popor senjata mengenai wajahnya. Saya berdiri terpaku. Dan saya bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Tapi tak terjadi banyak. Lemari diobrak-abrik. Laci ditarik keluar. Dan ketika mereka pergi, ayah kami dibawa pula. Ayah saya masih berkata, “Jaga ibumu, jaga adik-adikmu!” Itu ucapan terakhirnya kepada saya. Kami sangat senang ketika beberapa hari kemudian ibu pulang ke rumah.

Perisai Kemanusiaan

“Itulah cerita lengkapnya. Tanggal 2, atau 3, atau 4 Januari, kami pindah dari Kaliurang ke Yogya, saya tak tahu. Berapa lama kami tinggal di sana, saya juga tidak ingat. Yang saya ingat baik adalah saya membawa merpati di atas bahu saya. Di Kaliurang dan dari sana dia ikut ke Yogya. Ketika kemudian kami pergi ke nenek saya di Sibolga, merpati itu tetap di atas bahu saya. Merpati itu adalah satu-satunya yang saya miliki.

Pasti tidak gampang untuk ibuku. Kami juga menyadarinya. Tapi itu bukan peristiwa yang bisa dipakai untuk menulis buku. Telah terjadi sesuatu? Ya, ayah tidak ada lagi. Akankah dia pulang, kami juga tidak tahu. Kehidupan saat itu berubah. Kami akhirnya tiba di Bandung, pertengahan tahun 1950. Ketika sekolah Belanda ditutup tahun 1958 kami dikirim ke asrama Kristen di Zeist. Kemudian saya pergi ke Kiel di Jerman, di kota itu ibu saya sudah bekerja sebagai ahli radiasi. Di sana saya menempuh ujian akhir. Di sana saya belajar dan juga menikah. Sesudahnya saya berkarier di Indonesia dalam dunia bisnis. Sejak beberapa tahun saya dan istri tinggal di Jerman karena tiga anak kami dan delapan cucu juga tinggal di Jerman.

Banyak hal yang menjadi jelas di kemudian hari. Sebagai contoh, sesudah ayah saya dijemput dari rumah kami, datang militer Belanda menjemputku. Saya harus berjalan di depan patroli menuju ke Merapi. Kaliurang terletak di lereng gunung berapi. Saya tak ingat apakah saya menganggapnya berbahaya waktu itu. Hanya dengar mereka bilang, “Jalan di depan kami.” Mereka ingin ke atas, ke gunung. Kemudian ketika beranjak dewasa, saya menyadari, ya Tuhan, mereka menyuruh saya jalan duluan karena tidak ingin sesuatu terjadi dengan mereka sendiri. Tapi waktu itu saya tak menyadarinya.

Saya tak pernah berpikir untuk melakukan kontak dengan orang militer yang menembak mati ayah saya, siapa nama orang itu, dalam waktu yang lama saya tidak mengetahuinya. Tapi semua sudah diteliti sehingga saya tahu ia adalah sersan mayor Geelhoed. Saat saya mendengarnya, tak terpikir sedikitpun untuk melakukan suatu tindakan terhadap orang itu.

Saya bukan pelawan penelitian sejarah baru yang sekarang akan dilakukan mengenai periode itu. Untuk keturunan di Rawagede dan semua tempat lain yang orang-orangnya banyak dibunuh oleh serdadu Belanda, adalah tidak salah jika sesuatu diluruskan, jika mereka tahu mengapa sesuatu dilakukan. Tapi apakah penelitian itu dapat tercapai, saya tidak tahu. Ada begitu banyak hal buruk telah terjadi. Pertanyaannya: seberapa jauh orang ingin itu semua diteliti?

Apakah ada keadilan hukum dalam kasus ayah saya? Apa yang harus saya katakan? Jika saya bertemu pelakunya, tak ada yang akan saya perbuat. Dan saya tidak perlu menunjukkan pembunuh ayah saya pada lingkungan saya. Meski ibuku memperoleh ganti rugi, tapi advokat negara tetap mengatakan: “Kami tidak bertanggung jawab.” Ibu saya bersikeras, “Justru kalianlah yang bertanggung jawab.” Saya tidak dapat memaksa negara untuk mengakui pertanggungjawaban itu. Namun, jika mereka menyatakan bertanggung jawab hitam di atas putih, saya menerimanya. Dengan pernyataan demikian kasus ini selesai. Namun, sampai sekarang kasus ini masih ‘open ending’. ”

Jika dia di rumah, maka dia ada di rumah

“Dia tidak begitu besar, ayah saya. Dia orang yang bisa diajak bersenang-senang. Saya senang berjalan-jalan dengan beliau. Suatu hari dia pulang di rumah Kaliurang dan berkata pada tukang kebun, “Tolong, keluarkan binantang dari mobil.” Selanjutnya muncul bunyi pekikan keras. Tukang kebun hampir pingsan terkejut oleh belut raksasa di mobil bagian belakang. Mati tentu saja. Dia adalah tangkapan ayah saya. Dia senang berburu dan ini adalah hasil buruannya.

Saya sering ikut beliau berburu rusa. Sekarang langka ada di sana, tapi dulu Kaliurang dipenuhi rusa. Di seluruh Merapi tanaman menghijau dari bawah hingga puncak. Sekarang tak tumbuh lagi kecuali sayuran, dan binatang buas juga tak ada lagi. Saat tertentu bapakku pulang dengan dua bebek. Dia bilang, “ Ini untukmu. Sekarang kita tinggal bikin kandang.” Jadi, orang itu, ayah saya, punya makna buat saya. Dia mampu urus waktunya, jika di rumah memang dia ada di rumah. Dia ada di situ untuk kami.”

[Yogyakarta, akhir Januari 2017. Alih bahasa oleh Dewi Elbers]