Partner Indonesia

Kerjasama dengan Roodebrug Soerabaia

Rekanan Indonesia dari Histori Bersama adalah Roodebrug Soerabaia, yang didirikan pada 2010 oleh Ady Setyawan. Organisasi ini dinamakan Jembatan Merah dalam bahasa Indonesia, sebuah obyek vital yang memiliki peran penting dalam pertempuran Surabaya pada 1945. Sebagai yayasan, Roodebrug Soerabaia bertujuan untuk menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenali sejarah. Mereka mengorganisir kegiatan seperti pemutaran film, diskusi, pameran, reka ulang, seremonial, jelajah sejarah, wawancara veteran dan saksi sejarah dan sebagainya.

Karena Ady Setyawan dan Marjolein van Pagee telah bekerjasama sejak 2010 ( melakukan riset bersama, menterjemahkan artikel dan mengadakan event ) maka kami melanjutkan kerjasama ini. Harapan kami bisa terus bekerjasama kedepannya, saling bertukar informasi dan kisah!



Pernyataan Ady Setyawan, mengapa ia mendukung Histori Bersama:

“Saya mengagumi ide Marjolein untuk menyamakan perspektif sejarah antara Indonesia dan Belanda. Seperti kita ketahui bersama bahwa terdapat dinding penghalang berupa kendala bahasa yang menyulitkan kita bertukar informasi dan sudut pandang : sangat sedikit orang Indonesia yang mampu berbahasa Belanda dan sama halnya dengn Belanda, tak banyak yang bisa berbahasa Indonesia. Melalui platform ini, orang Indonesia dapat mengikuti perkembangan berita tentang sejarah kolonial yang berkembang di Media Belanda dan Belanda pun dapat mengikuti berita dan tulisan di Indonesia tentang era kolonial.

Kita memiliki ikatan yang kuat akan masa lalu, baik maupun buruk, suka tidak suka kita berbagi sejarah yang sama sekalipun seringkali kita melihatnya dari sudut pandang yang berlainan. Itulah sebabnya kita membutuhkan platform ini sebagai penjembatan. Untuk bisa saling memahami masing masing sudut pandang.”


Peluncuran Buku Pada Agustus 2018

Pada 19 Agustus 2018, Ady Setyawan akan meluncurkan buku keduanya berjudul “Surabaya Di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu?”

Sebagian besar bab membahas tentang sejarah pertempuran Surabaya, selain itu Ady juga akan menuliskan pengalamannya ketika mengunjungi Belanda pada 2013 dan berkesempatan mewawancara para veteran. Marjolein juga menuliskan satu bab khusus yang menjelaskan makna sejarah Konferensi Meja Bundar pada 1949 dan kelanjutan penjajahan Belanda sesudahnya.

Termasuk alasan kenapa Belanda tidak mau mengakui kemerdekaan 1945. Buku ini diterbitkan oleh Matapadi di Yogyakarta.