Author Country Media Name Year Topic , , Translator

Antara Ambon 1623 dan Banda 1621 – IIAS

Antara Ambon 1623 dan Banda 1621

Tinjauan Kembali Sejarah Kolonial Belanda-Inggris

International Institute for Asian Studies (IIAS), Summer 2021, Teks: Michiel Baas Terjemahan: Batari Oja

Pada 8 Mei 2021, tepat 400 tahun Jan Pietersz Coen (1587-1629) melakukan pembantaian di Kepulauan Banda di Maluku (Provinsi Maluku), satu-satunya tempat pala tumbuh pada saat itu[1]. Untuk mengantisipasi peringatan ini, patung Coen tahun 1893 di Kota Hoorn Belanda, yang mendominasi alun-alun kota (Roode Steen/Red Stone), sekali lagi menjadi pusat kemarahan. Di akhir abad ke-19 yang penuh warna nasionalisme itu, orang-orang mencari pahlawan dari masa lalu. Perang Aceh berkecamuk tanpa asa selama bertahun-tahun. Masa yang disebut sebagai “hari-hari kejayaan” Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) lebih dari satu abad tertinggal. Sebagai figur teladan yang mempelopori masuknya Belanda ke Asia, Coen disejajarkan dengan pandangannya yang kokoh dan pasti terhadap Timur. Dia dianggap telah membuka jalan bagi keberhasilan Belanda dalam perdagangan rempah-rempah, dan dengan demikian tampaknya cocok untuk memperkuat kepercayaan yang berkelanjutan pada perusahaan kolonial Belanda itu. Bahkan ketika patung Coen didirikan, banyak yang mengkritik glorifikasi seorang pria dengan sejarah yang berlumuran darah ini. Selama protes besar di dekat stasiun kereta Hoorn pada Juni 2020, para pembicara menyoroti diskriminasi dan rasisme yang terus berlanjut di Belanda dalam arti yang lebih luas. Peristiwa baru-baru ini di Amerika Serikat – khususnya, gerakan Black Lives Matter yang semakin menonjol dan reaksi publik terhadap pembunuhan George Floyd – menjadi sumber inspirasi.

Aksi seputar citra JP Coen ini terjadi pada saat penjajahan Belanda di masa lalu dan kelakuannya yang brutal dalam perdagangan budak menjadi semakin disorot. Rijks museum baru-baru ini membuka pameran besar-besaran tentang perbudakan. Sebuah buku yang dikuratori dengan baik, yang memberikan perhatian khusus pada banyak objek terkait perbudakan dalam koleksinya, juga telah diterbitkan[2]. Publikasi terkait sering kali menarik garis langsung antara masa lalu yang penuh kekerasan ini dan kehadiran rasisme yang diinstusionalisasikan ke dalam masyarakat Belanda. Perhitungan historis semacam ini dapat mengandalkan sentimen oposisi yang kuat: pada hari yang sama dengan protes yang disebutkan di atas, di Hoorn, sebuah demonstrasi tandingan pro-Coen juga diadakan. Dibalut bendera Belanda dengan logo VOC tersulam di atasnya, sekelompok simpatisan terbatas berkumpul di dekatnya, mengklaim ikatan emosional dengan ‘Coen mereka’ itu dan tokoh kolonial Belanda lainnya dari masa lalu gemilang yang imajiner. Sebagaimana sejarah penjajahan Belanda disesuaikan dan digunakan dalam protes semacam itu, dan dilukiskan oleh generalisasi yang lebih luas. Di antara para pengunjuk rasa pro-Coen, tampaknya hal utama adalah tentang gagasan bahwa Belanda dibangun di atas kekayaan yang diperoleh dari Zaman Keemasan Belanda. Pahlawan masa lalu (misalnya, Michiel de Ruijter (1607-1676), Piet Hein (1577-1629), JP Coen) tidak boleh dianggap sebagai penakluk yang kejam dan pedagang budak. Mereka harus terus dihormati atas kekayaan yang mereka bawa pulang, kekayaan yang terus membuat Belanda menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Di sisi lain, ‘400 tahun kekuasaan imperialis Belanda’ – sebagaimana Gloria Wekker menyebutnya dalam White Innocence (2016: 2) – tidak dapat dihapus begitu saja. Konsekuensi dari imperialisme seperti itu masih terasa.

Sejumlah buku yang diterbitkan baru-baru ini menawarkan perspektif baru tentang penjajahan Belanda dan bagaimana perkembangannya. Dua dari kajian ini – Amboina, 1623 karya Adam Clulow[3] dan Inventing the English Massacre karya Alison Games[4] – adalah tentang peristiwa yang relatif kecil yang akan memiliki konsekuensi luas bagi hubungan Republik Belanda dengan Inggris: eksekusi 21 karyawan British East India Company (BEIC) dan Prajurit Upahan Jepang oleh otoritas Belanda di Ambon pada tahun 1623. Kedua buku itu lebih dari sekedar menggambarkan peristiwa mengerikan yang terjadi di Ambon; mereka juga mencoba menjelaskan bagaimana pembantaian ini, sebagaimana Inggris merujuk pada insiden tersebut, harus dilihat dari perspektif Eropa dan regional. Bersama dengan dua buku lainnya – yang pertama membahas konflik Inggris-Belanda tahun 1652-1689, yang kedua tentang bagaimana perusahaan yang berbeda [VOC dan BEIC] berhubungan satu sama lain – gambaran yang kompleks dan detail muncul dari masa penjajahan awal. Karya-karya semacam itu mendorong refleksi tentang cara para pemangku kepentingan kolonial yang kejam dan tanpa kompromi berusaha mengukir cerita perdagangan rempah untuk diri mereka sendiri. Namun, secara tidak langsung, kajian-kajian ini juga memperingatkan terhadap penekanan berlebihan pada keperkasaan dan supremasi para penjajah dulu.

Ambon, 1623

Dua tahun setelah JP Coen ‘menghukum’ penduduk Pulau Banda, terjadi tragedi di Ambon yang jauh lebih mendapat perhatian di Eropa. Pada tahun 1623, pihak berwenang Belanda menangkap seorang prajurit upahan Jepang yang bekerja untuk VOC karena mengajukan pertanyaan ‘mencurigakan’ tentang kemampuan pertahanan benteng setempat. Ketika dia tidak bisa menjelaskan mengapa ini menarik baginya, dia disiksa bertubi-tubi. Pada akhirnya, ia mengaku menjadi bagian dari rencana yang diselenggarakan oleh para pedagang Inggris untuk menaklukkan benteng yang dimaksud. Dua minggu kemudian, 21 orang dieksekusi karena dicurigai terlibat dalam rencana tersebut. Sepuluh di antaranya adalah pedagang yang dipekerjakan oleh BEIC. Ketika berita sampai ke London setahun kemudian, ‘pembantaian’ itu tidak hanya menjadi simbol kelakuan agresif, kasar, dan kejam Belanda, tetapi juga menjadi salah satu penjelasan mengapa Inggris akhirnya mulai berfokus ke India sebagai alternatif dari yang kini disebut Indonesia.

Kajian sebelumnya, tentang yang disebut ‘Pembantaian Amboyna’, terutama berfokus pada penyebab mendasar [dari pembantaian itu] — yaitu, kebenaran (atau kebohongan) dari dugaan konspirasi. Dalam hal ini, perspektif agak terbagi menurut batas nasional. Penulis Belanda bersikeras bahwa Inggris sedang merencanakan untuk mengambil alih benteng. Sebaliknya, para penulis Inggris selalu yakin bahwa, bahkan jika ada rencana melawan Belanda, Pembantaian Amboyna tetap merupakan kegagalan hukum. Kedua publikasi agaknya cenderung menghindari persoalan ini sama sekali. Clulow’s Amboina, 1623 menekankan konteks regional Asia dimana Belanda beroperasi pada saat itu. Ini menghasilkan sejarah yang melawan narasi bahwa VOC yang memegang supremasi sejak awal. Mengikuti jejak studi terobosan seperti Empires of the Weak-nya J.C. Sharman[5], Clulow menunjukkan bagaimana Belanda sebenarnya mulai dalam posisi yang jauh lebih lemah daripada yang diasumsikan sebelumnya. Mereka dikuasai oleh ketakutan dan paranoia yang didorong oleh kurangnya pengetahuan regional, ambiguitas tentang perjanjian sebelumnya, dan kehadiran pesaing potensial (seperti Inggris). Oleh karena itu, seseorang dapat menafsirkan penyiksaan dan eksekusi berikutnya pada tahun 1623 sebagai akibat dari serangan panik kolektif Belanda (walaupun ini tidak boleh dibaca sebagai alasan atau penjelasan untuk kekejaman lain yang dilakukan secara lokal).

Prajurit Upahan Jepang

Di bagian pertama bukunya, Adam Clulow kembali ke periode JP Coen untuk menunjukkan bagaimana sejarah Kepulauan Banda dan Ambon terkait. Setelah membahas mengapa rempah-rempah dari kepulauan yang disebut sebagai Kepulauan Rempah itu begitu dicari oleh Eropa, Clulow mengeksplorasi bagaimana Belanda mulai ikut campur dalam perdagangan pala. Berbagai perjanjian seharusnya menjamin posisi monopoli VOC, tetapi apakah elit lokal benar-benar memahami apa yang ada dalam perjanjian, itu adalah masalah lain. Ini menandakan masalah komunikasi dan terjemahan yang akan lebih sering kita temui dalam narasi Clulow. Orang Belanda sering kali memiliki gambaran yang agak terbatas tentang situasi mereka. Contohnya Prajurit Upahan Jepang yang dipekerjakan oleh VOC menekankan poin ini lebih lanjut.

Bagaimana dua belas Prajurit Upahan Jepang akhirnya bekerja untuk VOC di Ambon? Menurut Clulow, Prajurit Upahan Jepang ini adalah bagian dari eksperimen untuk memanfaatkan kelebihan tenaga kerja di Asia. Setelah periode berdarah Sengkoku (1467-1568), ada banyak pria pengangguran di Jepang selatan. Ditempatkan di Hirado, VOC melihat kesempatan untuk mengisi kembali kekurangan orang-orang yang mempertahankan perusahaan mereka. Prajurit Upahan Jepang, misalnya, memainkan peran sentral dalam pemenggalan para orang kaya di Banda Neira. Saat memasuki satu-satunya museum Neira, kita akan langsung disambut dengan lukisan mengerikan para prajurit ini memenggal kepala penduduk setempat, semuanya di bawah pengawasan tajam staf VOC.

Di sinilah Amboina, 1623 dibaca seperti sekuel dari The Company and the Shogun: The Dutch Encounter with Tokugawa Japan karya Clulow[6] sebelumnya, dimana ia menyajikan analisis rinci tentang periode Belanda itu di Hirado (1609-1641). Buku itu meninggalkan kesan yang tak terhapuskan tentang cara orang Jepang sendiri menentukan kontur hubungan dan betapa terbatasnya pengaruh VOC di sini. Hal yang paling mencolok adalah gambaran kompleks ‘ziarah’ yang dilakukan VOC setiap tahun dari selatan jauh sampai ke Edo (sekarang Tokyo) dari tahun 1633 dan seterusnya. Perjalanan sekitar dua ribu kilometer berlangsung selama tiga bulan dan hanya dua hingga tiga minggu saja tinggal di ibu kota. Shogun sendiri tidak akan pernah mengungkapkan dirinya kepada orang-orang, dan tetap tidak terlihat di balik layar. Setelah menunggu tanpa henti di istana, wakil VOC diperintahkan untuk menghormati Shogun dengan bersujud di lantai. Hadiah yang tak terhitung jumlahnya dipertukarkan, yang membuat perjalanan pulang jauh lebih ringan, selain tiga puluh kimono yang biasanya mereka terima sebagai gantinya. Satu-satunya cara untuk mengetahui seberapa baik hadiah itu dihargai oleh istana adalah dengan cara dimana sang duta itu diminta untuk bersujud pada tahun berikutnya. Ketika dia pernah diminta untuk melakukannya di luar istana itu jelas ada urusan yang harus diselesaikan.

Analisis yang ditawarkan Clulow dalam The Company and the Shogun menggarisbawahi betapa relatif lemahnya posisi VOC di Jepang. Situasi di Ambon berkebalikan dengan ini. Kehadiran Inggris di Ambon merupakan pengingat yang menyakitkan akan posisi genting mereka di wilayah tersebut. Arena pertarugan dimana mereka menyadari diri mereka bercampur aduk dengan aliansi regional dan konflik itulah yang membawa ketidakpastian serta potensi kekerasan. Bagi Belanda, Inggris melemahkan VOC dan memanfaatkan kerja keras yang dilakukan Belanda untuk mengamankan posisi lokal mereka. Sebelum pembantaian, Belanda tampaknya menganggap Inggris sebagai pencatut. Setelah 1623, laporan di Inggris selalu berfokus pada perilaku tidak manusiawi Belanda. Di sinilah Inventing the English Massacre karya Alison Games menawarkan banyak wawasan tambahan.

Konsep Pembantaian

Bahkan sebelum tahun 1621, hubungan antara Republik Belanda dan Inggris telah mengalami pasang surut. Konflik antara Kekaisaran Habsburg (‘Spanyol’) dan Republik [Belanda] memainkan peran penting dalam hal ini. Selama Gencatan Senjata Dua Belas Tahun (1609-1621) ada kekhawatiran yang signifikan tentang kemungkinan aliansi Inggris-Spanyol. Ini kontras dengan perspektif Inggris, yang sangat bergantung pada asumsi bahwa Republik [Belanda] berutang terima kasih kepada Inggris atas dukungan militer yang telah diterimanya di bawah Ratu Elizabeth I (1533-1603). [Stigma] ini diperparah oleh penghinaan tertentu terhadap negara Eropa baru tanpa keluarga kerajaan ini. Seperti yang dikemukakan Games, posisi kedua negara sudah tidak cocok sejak awal. VOC berpendapat bahwa Inggris tidak berhak mengklaim saham dalam perdagangan rempah-rempah; Inggris bersikeras bahwa Belanda berutang terima kasih kepada mereka.

Inventing the English Massacre unggul dalam analisisnya terhadap pamflet yang tak terhitung jumlahnya dan teks-teks lain yang diproduksi oleh pihak Inggris tentang konflik tersebut. Efek dari representasi tersebut dapat mewarnai hubungan antara kedua negara selama berabad-abad yang akan datang. Secara khusus, penggunaan istilah ‘pembantaian’ mendapat perhatian Games secara khusus. Pada abad ke-17, istilah ini terutama mengacu pada kematian dengan kekerasan dimana orang yang meninggal dianggap sebagai martir. Dengan menarik perhatian pada penyiksaan yang dialami oleh orang-orang Inggris di tangan Belanda (dan kegagalan hukum yang menjadi karakteristik persidangan), menjadi mungkin untuk menempelkan label ‘pembantaian’ pada kejadian-kejadian secara keseluruhan. Hal yang mengejutkan, BEIC tampaknya sangat menyadari bahwa penyiksaan dan eksekusi tidak benar-benar memiliki karakteristik sebuah pembantaian seperti halnya Pembantaian Jamestown/India tahun 1622, dimana seperempat (347) penduduk tewas di tangan seorang penduduk setempat. Juga tidak sebanding dengan pembunuhan masal yang terkait dengan perang agama. Memberi label peristiwa itu sebagai ‘Pembantaian Amboyna’ tidak hanya membuat para korban yang bersangkutan menjadi martir, tetapi juga menggambarkan betapa Inggris dan Belanda berbeda satu sama lain sebagai suatu bangsa. Sementara buku-buku terbaru seperti Inglorious Empire karya Shashi Tharoor[7], The Anarchy karya William Dalrymple[8], dan Empireland karya Sathnam Sanghera[9], semuanya dengan keras menentang gagasan tentang kekuatan kolonial Inggris yang beradab (dan bekas koloni yang mana sebenarnya yang diuntungkan), Clulow dan Games menunjukkan betapa rumit dan kusut hubungan itu sebenarnya. Pendekatan elegan Alison Games terhadap konsep pembantaian, dan bagaimana hal itu memungkinkan Inggris untuk melukiskan gambaran yang sangat negatif tentang Belanda, membantu mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang representasi sejarah penjajahan Belanda itu sendiri yang seringkali samar. Satu contoh misalnya, masih umum untuk menemukan argumen bahwa, di bawah pemerintahan Coen, Kepulauan Banda tidak hanya berkurang populasinya, tetapi lima belas ribu penduduknya sebenarnya dibunuh. Meskipun tidak diragukan lagi bahwa ribuan orang Banda tewas akibat kekerasan yang dilakukan oleh Belanda, beberapa melarikan diri ke Kepulauan Kei bagian timur, setidaknya untuk sementara. Hal ini tidak [mencoba] mengurangi sejarah Coen yang sangat berdarah, tetapi lebih menggarisbawahi cara normatif sejarah kolonial yang digunakan untuk menegaskan maksud tertentu. Akibatnya, Coen menjadi seseorang yang membuka jalan bagi penjajahan imperialis 400 tahun, yang sebenarnya tidak seperti itu.

Outsourcing Empire

Di sini, dua publikasi terbaru lainnya memberikan kerangka yang diperlukan untuk memahami periode penjajahan awal (Belanda) ini. Dalam Outsourcing Empire[10], Phillips dan J.C. Sharman menyajikan gambaran menarik dari berbagai perusahaan yang memulai penjelajahan dalam misi penaklukan dan kolonisasi. Secara khusus, mereka membahas logika kelembagaan yang mendasari perusahaan-perusahaan ini untuk mendapatkan perspektif yang lebih dalam tentang bagaimana mereka bekerja secara praktis. Jelas, VOC berbeda dengan perusahaan lain dalam hal pendekatannya. Para penulis tersebut berpendapat bahwa perusahaan negara, sebagaimana mereka menjuluki [VOC], dapat muncul dari konteks yang dicirikan oleh peleburan hubungan kedaulatan dimana kekuasan pemerintah seringkali dibagi dengan keseluruhan aktor, mulai dari administrasi gereja hingga kota. Kekuasaan ini tidak terikat secara teritorial atau dipisahkan atas dasar domain publik dan privat seperti yang akan menjadi keharusan di kemudian hari. Perhatian Clulow dan Games tertuju pada hubungan antara VOC/Republik [Belanda] dan BEIC/Inggris, Outsourcing Empire memungkinkan pembaca untuk merenungkan konteks yang lebih luas. Melalui Perjanjian Tordesillas (1494), Portugis dan Spanyol telah mencoba membagi dunia di antara mereka sendiri ratusan tahun sebelumnya. Dimana Spanyol mengabaikan sebagian besar Asia, dan Portugal dengan basis di Goa memainkan peran dominan dalam perdagangan rempah-rempah di Samudera Hindia untuk waktu yang lama. Sebelum Belanda dan Inggris menginjakkan kaki di pantai Maluku, Portugis telah mendahului mereka. Sebagaimana sudut pandang longue durée dari sejarah memungkinkan [kita] untuk menarik hubungan antara [keduanya], di satu sisi, pergeseran kekuasaan (teritorial) di Eropa itu sendiri, dan, di sisi lain, bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi di bawah mandat yang telah diberikan kepada mereka.

Membingkai ulang ‘Emperium’

Citra negatif orang Inggris terhadap orang Belanda akan bertahan selama berabad-abad, paling tidak karena pamflet-pamflet yang diperbarui secara berkala yang diedarkan. Lambat laun, kemartiran dan kengerian yang dialami Inggris di Ambon memperkuat gagasan VOC yang sangat brutal yang sangat kontras dengan cara kerja BEIC yang jauh lebih beradab. Ketiga perang Inggris-Belanda, yang dilakukan oleh kedua negara tersebut antara 1652-1674, memperkuat citra ini. Kumpulan buku War, Trade and the State[11], yang disunting oleh David Ormrod dan Gijs Rommelse, memperluas analisisnya hingga 1689, tahun di mana Glorious Revolution terjadi. Atas undangan sejumlah pemimpin Protestan, pada tahun itu William III dari Orange-Nassau dan istrinya Maria Stuart diangkat menjadi pasangan Raja Inggris, Irlandia, dan Skotlandia.

War, Trade and the State sangat menarik bagi siapa saja yang ingin lebih memahami bagaimana ketiga perang pertama Inggris-Belanda membentuk hubungan mereka selanjutnya. Sebagian awal buku ini membahas bagaimana perang ini terjadi di Laut Utara. Bagian lainnya membahas konteks Eropa ketika konflik berlangsung, peran yang dimainkan keluarga kerajaan Inggris dalam [konflik] ini, cara politik berkembang di Republik [Belanda], dan bagaimana kedua pihak militer berhubungan satu sama lain. Fokus kemudian beralih ke Samudra Atlantik dan Asia, dengan kontribusi spesifik yang merinci bagaimana perang tersebut berdampak pada Kepulauan Karibia, Amerika Utara, dan Banda. Meskipun ‘pembantaian’ tahun 1623 terjadi beberapa dekade sebelum Perang Inggris-Belanda pertama (1652-1654), tetap penting untuk memahami ketiga perang ini dalam kaitannya dengan rangkaian sejarah yang berkontribusi pada bagaimana dunia terbentuk dalam terminologi geopolitik. Perjanjian Breda (1667) yang terkenal itu menunjukkan apa yang dipertaruhkan secara teritorial setelah Belanda memenangkan perang kedua. Kepemilikan Pulau Run, Kepulauan Banda, yang kecil dan kaya akan pala, itu digunakan untuk mengatur status seluruh deretan wilayah, termasuk Amsterdam Baru (yang menjadi New York) dan Suriname.

Simpulan

Dari [semua pulau di Kepulauan] Banda, Pulau Run adalah yang paling sulit dijangkau. Meskipun masih ada perkebunan pala di pulau itu, mereka tidak lagi memainkan peran penting dalam perdagangan rempah-rempah. Banda sendiri sudah lama kehilangan statusnya sebagai satu-satunya tempat dimana pala tumbuh. [Pulau] Run memainkan peran sentral dalam buku terlaris Giles Milton, Nathaniel’s Nutmeg[12], yang menceritakan kisah heroik Nathaniel Goldthorpe (1585-1620) yang berjuang sendirian melawan Belanda untuk merebut kembali pulau itu. Analisis Clulow dan Games tentang Pembantaian Amboyna menunjukkan betapa stereotip negatif Belanda ini terus berbicara [bahkan] dalam imajinasi. Stereotip semacam itu membayangkan seorang penjajah Inggris yang tercerahkan yang, dengan kejujuran dan kerendahan hatinya, sangat kontras dengan orang Belanda yang tidak sopan dan kejam. Membaca cerita Milton ini, orang tidak bisa [menahan diri untuk] tidak berharap kepada orang Banda bahwa mereka akan segera menikmati banyak keuntungan dari tuan-tuan Inggris mereka yang ramah.

Baik Outsourcing Empire dan War, Trade, and the State  menggarisbawahi pentingnya menganalisis peristiwa yang terjadi di Ambon pada tahun 1623 dalam kerangka perubahan geopolitik (Eropa) yang lebih luas. Bersama dengan kajian Adam Clulow dan Alison Games yang mendetail dan mendalam, peristiwa tersebut juga berfungsi sebagai peringatan penting terhadap semua penyederhanaan yang terlalu mudah tentang periode kolonial itu sendiri. Ketika kita berbicara tentang 400 tahun pemerintahan imperialis, seperti yang dilakukan Gloria Wekker, apa itu yang kita maksud? Sementara buku seminalnya White Innocence menggarisbawahi panjangnya dan dampak penjajahan Belanda, buku itu gagal menangkap kompleksitas perusahaan itu sendiri dan berisiko menyumbangkan gagasan yang tidak akurat tentang ‘keperkasaan’ penjajah Belanda. Kini gerakan mempertahankan kehadiran patung JP Coen di Hoorn semacam ini semakin mengangkat wacana kebanggaan nasional yang terkait dengan penjajahan Belanda, penting bagi kita untuk terus kritis terhadap asumsi yang dibangun ini.


Michiel Baas,

Anggota Senior Max Planck Institute, Halle (Germany)

michielbaas@yahoo.com / baas@eth.mpg.de

[1] Penulis ingin berterimakasih kepada Tristan Mostert untuk masukan penting dalam artikel ini. Versi sebelumnya dari artikel ini termuat dalam De Nederlandse Boekengids, issue 3 (June-July), 2021.

[2] Rijksmuseum. 2021. Slavery. Amsterdam: Rijksmuseum/Atlas Contact.

[3] Clulow, A. 2019. Amboina, 1623: Fear Conspiracy on the Edge of Empire. New York: Columbia University Press.

[4] Games, A. 2020. Inventing the English Massacre. New York: Oxford University Press.

[5] Sharman, J.C. 2019. Empires of the Weak: The Real Story of European Expansion and the Creation of the New World Order. Princeton: Princeton University Press.

[6] Clulow, A. 2013. The Company and the Shogun: The Dutch Encounter with Tokugawa Japan. New York: Columbia University Press.

[7] Tharoor, S. 2017. Inglorious Empire: What the British Did to India. London: Penguin.

[8] Dalrymple, W. 2020. The Anarchy: The Relentless Rise of the East India Company. London: Bloomsbury.

[9] Sanghera, S. 2021. Empireland: How Imperialism Has Shaped Modern Britain. London: Penguin.

[10] Philips, A. & Sharman, J.C. 2020. Outsourcing Empire: How Company-States Made the Modern World. Princeton: Princeton University Press.

[11] Omrod, D. & Rommelse, G. 2020. War, Trade and the State – Anglo-Dutch Conflict, 1652-88. Suffolk: Boydell Press.

[12] Milton, G. 1999. Nathaniel’s Nutmeg. How One Man’s Courage Changed the Course of History. London: Hodder and Stoughton.