Author Country Media Name Year Topic Translator

Oostindie: “Pandagan bahwa saya membenarkan kolonialisme itu tak masuk akal”

Oostindie: “Pandagan bahwa saya membenarkan kolonialisme itu tak masuk akal”

Tanggapan Gert Oostindie tentang kritik terhadap proyek penelitian Belanda tentang kekerasan selama perang dekolonisasi Indonesia (1945-1950).

Historisch Nieuwsblad, 20 November 2018

Sebagai salah seorang pemrakarsa mega-penelitian tentang aksi militer Belanda di Indonesia (1945-1950), sejarawan Gert Oostindie mendapat kritik. Diantaranya  adalah seorang antropolog Gloria Wekker yang meyakini bahwa para peneliti bermaksud untuk membenarkan kejahatan perang Belanda. Di majalah sejarah, Historisch Nieuwsblad, Oostindie mengatakan bahwa kritik tersebut mengejutkan dan tak masuk akal.

Tahun lalu, sebagian karena desakan Oostindie, pemerintah Belanda mendanai investigasi berskala besar tentang perang dekolonisasi di Indonesia. Namun beberapa akademisi dan aktivis tak percaya dengan proyek dan orang-orang yang mengadakan penelitian tersebut. Diantaranya, seorang antropolog Gloria Wekker yang menyatakan secara terbuka bahwa penelitian tersebut sudah dibuat sedemikian rupa sehingga kesimpulannya akan menguntungkan Belanda.

“Saya sangat terkejut dengan pernyataannya. Bagaimana bisa dia berkata begitu?” Oostindie menanggapi dalam wawancaranya dengan  Historisch Nieuwsblad. “Orang bisa terus-menerus sibuk dengan prasangka dan sudut pandang saya, dan saya harus berfikir cermat tentang itu, tetapi pada akhirnya penelitian itu menugaskan tiga lembaga berdasarkan keahliannya.”

Penelitian tersebut dilaksanakan oleh Lembaga Kerajaan Belanda untuk Bahasa, Geografi dan Etnologi (KITLV), di mana Oostindie sebagai direkturnya, Lembaga Kajian Perang, Holocaust dan Genosida (NIOD) dan Lembaga Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH). Oostindie menulis rangkuman hasilnya yang akan diterbitkan pada tahun 2021.

Dalam wawancaranya dengan Historisch Nieuwsblad, Oostindie menguraikan tentang rancangan dan pentingnya penelitian tersebut. Ia memandang masa lalu kolonial sebagai ‘narasi yang kompleks’. “Itu lebih realistis dan meyakinkan daripada jenis moralistik yang hitam-putih. Saya ingin berbuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Saya tak bisa mencapainya dengan menjadi benar secara politis di menara gading.