Author Country Media Name Year Topic , Translator ,

Aib Kolonial – Alfred Birney

Aib Kolonial

Nederland in Ideeën, (Belanda dalam ide ide, 2019) Tema untuk tahun ini adalah “harapan.”
Oleh: Alfred Birney, Penulis, Kolumnis, Penulis buku “De Tolk van Java” (Penterjemah dari Jawa, 2017)

Dalam beberapa tahun terakhir ini, cukup sering muncul berita tentang masa lalu kolonialisme Belanda dan sepertinya akan tetap berlangsung seperti ini hingga beberapa waktu kedepan.

Saat ini, surat-surat kabar dan televisi menentukan subyek dari apa yang diperdebatkan. Kini kita memiliki internet, dimana diluar campur tangan pemerintah, search engine, dinas rahasia dan pembesar-pembesar media sosial masih memegang karakter anarkisnya. Segala macam pendapat bisa dituangkan. Media tradisional harus mengikuti gaya di dunia maya jika mereka tak ingin kehilangan pembaca, pendengar dan pemirsa.

Sebagai contoh, diskusi dan perdebatan tentang Piet Hitam di Belanda kini bukan lagi fenomena eksklusif yang hanya muncul pada bulan Desember, kini hal ini kita perdebatkan sepanjang tahun: bahwa sejarah perbudakan adalah bagian dari debat publik.

Para aktivis menandai patung Jan Pieterszoon Coen, mengajak berdemontrasi membuat suara gaduh saat Hari Mengenang Nasional dan mereka mendapat ancaman pembunuhan. Mereka dituduh bertujuan menghapus sejarah, padahal faktanya mereka memiliki tujuan yang justru sebaliknya : bahwa kita sebagai bangsa Belanda harus melihat dan belajar sejarah dari sudut pandang yang berbeda.

Ini adalah pendapat saya juga. Sebelumnya, pengetahuan umum tentang sejarah penjajahan / kolonial sudah sangat dibatasi, dan ini menjadi semakin sangat salah dengan pembukaan dari apa yang kita kenal dengan sebutan “Mammoth Act” ditahun 1970 an, yang jelas tidak bertujuan menyegarkan ingatan kolektif kita.

Siswa SMA diijinkan untuk menyusun kurikulum mereka sendiri, sejarah bukan lagi mata pelajaran wajib dan generasi tumbuh dengan pengetahuan sejarah yang kerdil. Hal ini sejalan dengan kepentingan pemerintah Belanda. Dimana telah lebih dari setengah abad berupaya menyembunyikan sejarah penjajahannya, tetapi malah justru jari mereka menunjuk pada dosa Jerman yang telah mengakui bersalah dalam kejahatan perang semasa Perang Dunia II. Belanda juga menunjuk jarinya menyalahkan Jepang, yang telah berani menginvasi Hindia Belanda dan menempatkan orang-orang Eropa kedalam kamp interniran. Kemudian secara perlahan mereka menghapuskan sejarah penjajahan dari buku sejarah. Bahkan sistem apartheid di Afrika Selatan mendapat kritik dari Belanda, sedangkan mereka sendiri lupa bahwa mereka menciptakan sistem kasta rasial di tanah jajahan Hindia Belanda. Hingga akhirnya Belanda juga memprotes pemboman Amerika Serikat atas Vietnam.

Mari kita ingat kembali, warga Amerika Serikat memgakui bahwa bukan hanya pimpinan mereka, tetapi juga seluruh penduduk bersalah atas bencana yang terjadi di Vietnam. Tak terhitung film tentang Vietnam yang dibuat, termasuk musik-musik pop yang berisi betapa menyedihkannya “Perang Asia” yang berakhir diurutan atas deretan musik top. Netflix membuat film sepuluh seri tentang perang Vietnam, termasuk kesalahan-kesalahan dan kasus kejahatan perang. Sementara Belanda tidak bertindak lebih jauh dari memproduksi film dari buku ditahun 1900 dan sebelumnya. Dan ya, saya sudah cukup mendengar heroisme perlawanan kita melawan Jerman.

Uang pemerintah Belanda telah dihabiskan dalam sebuah investigasi kejahatan perang dalam perang kolonial besar yang terakhir. Proyek riset independen ini dinamakan “Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia, 1945-1950”. Uang ini mengalir kepada tiga institusi: KITLV, NIOD dan NIMH. Semua ini adalah rekayasa. Segalanya telah dituliskan, tidak akan ada hal baru yang muncul ke permukaan, hanya perlu disampaikan dan diajarkan. Hanya ini saja.

Seberapa independen sebuah penelitian yang dilakukan oleh tiga institusi dimana pemerintah memegang wewenang atas mereka? Riset ini dipimpin oleh orang yang mengatakan mereka ingin bekerjasama dengan orang-orang Indonesia. Tetapi anehnya mereka tak mengundang satupun orang Indonesia saat kick off event dari riset ini. “Kami menembakimu tapi kamu menembak balik.” Sebagaimana dikatakan salah seorang partisipan riset ini. Yah, jika anda mengekspresikan pemikiran konyol seperti ini, lebih baik tidak usah mengundang siapapun.

Investigasi ini dimulai dengan analisa kekerasan yang dilakukan kedua belah pihak. Dan untuk memudahkan bagi diri mereka sendiri, Belanda tidak mengambil apapun dari sejarawan Indonesia. Riset ini dikatakan untuk menjelaskan kekerasan yang dilakukan Belanda dengan mempelajari konteks lebih luas dari dekolonisasi pasca perang dalam politik internasional, administratif, yudisial dan level militer.

Internasional , bukan? Kita melindungi punggung kita lagi. Dan apa pula yang dimaksud dengan “menjelaskan” diatas? Sebuah pembenaran yang lain lagi atas sebuah perang yang kita namakan Aksi Polisionil? Bukankah ini berarti kita harus duduk manis bertahun-tahun menanti para periset tampil dengan temuan-temuan mereka? tepat disaat mereka juga akan merayakan pensiunnya? Ya tentu saja, kita harus melihat hasilnya dengan catatan “dalam konteks pada masa itu”. Lagu lama yang diulang-ulang. Dan saya tetap yakin pelajaran sejarah di sekolah tetaplah menjadi sesuatu yang opsional.

Masihkah ada harapan? Ya, disana ada generasi baru. Sebuah platform tiga bahasa bernama “Histori Bersama” yang akan menjadi duri dalam daging dari tiga institusi tadi. Dalam sebuah film dokumenter berjudul The Uprising” (2019), Pravini Baboeram menguraikan berabad-abad sejarah kolonialisme kita. Sungguh memalukan bagi Belanda, melihat bagaimana ia menjelaskan sejarah penjajahan sejak 1500 hingga masa kini dalam bahasa Inggris. Para periset independen ini telah tampil di Amerika dan Belgia, yang jelas lebih progresif daripada ketiga intitusi pemerintah dan hasil publikasinya.

Mereka tidak menderita dari penyakit khas Belanda, penyakit aib kolonial dan arogansi kolonial. Dan semoga, akan menunjuk jari menyalahkan kita. Sebagaimana kita yang dengan mudahnya menyalahkan bangsa-bangsa lain.

Alfred Birney adalah penulis esai, kolumnis dan penulis buku “De Tolk van Java” (Penterjemah dari Jawa, 2017) dimana ia memenangkan dua penghargaan literasi Belanda yang cukup prestisius. Versi dalam bahasa Inggris akan diterbitkan Mei 2020. Alih bahasa ke Itali dan Indonesia juga sedang dikerjakan.

“Nederland in Ideeën”
diterbitkan oleh Maven Publishing: https://www.mavenpublishing.nl/boeken/hoop/?mc_cid=f109f49507&mc_eid=f2c259082e